Kajian Tibyan : Adab dan Memulyakan Al-Qur’an

   “Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat”

Luruskan niat mengikuti HTQ dan menghafal Al-Qur’an untuk mencari ridho Allah Ta’ala. Ikhlaskanlah dalam membaca, memahami isi, mengkaji, menghafal Al-qur’an dan mengajarkannya serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari – hari. Sesungguhnya orang itu bisa mengetahui kadar niatnya dalam melakukan amal. Ikhlas dalam menghafal Al-Qur’an itu , Niat menjaga kalam-Nya demi mendektkan diri kepada Allah Ta’ala  dengan niat yang lurus lahir dan batin. Ikhlas itu melupakan amal yang sudah dilakukan.

Ciri – ciri orang yang baik adalah ketika dipuja tak terlena juga tak gentar ketika dihina, melupakan amal yang telah diperbuat dan mengharap balasan di akhirat.

Jangan pernah menduakan Allah, jaga hidup dari riya’ dan jika memiliki prasangka takut riya’ maka sesungguhnya orang itu sudah riya’.

 

والله اعلم بالصواب

Sumber rujukan: Kitab Tibyan Fii Adabi Hamalatil Qur’an

Pemateri: Ust. Dr. Ahmad Muzakki, MA

Dirangkum oleh: Diana Widayati/18130036/Biologi

Kajian Tibyan : Memuliakan Ahlul Qur’an dan Larangan untuk Menyakitinya

  • Seperti yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala surah Al-Hajj ayat 32, Al-Hajj ayat 30, As-Syu’ara’ ayat 215, dan Al-Ahzab ayat 58.
  •  Termasuk sikap mengagungkan Allah Ta’ala adalah memuliakan Muslim yang lebih tua, memuliakan Penghafal Qur’an dengan semestinya (tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu mengabaikan, sesuai porsinya), dan memuliakan pemimpin yang adil.
  • Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk memposisikan manusia sesuai posisi/kedudukannya. Contohnya dengan menyambung tali silaturahim dengan sesama, tidak memandang dari segi strata sosial dan lain sebagainya.
  • Jika didapati dua orang meninggal dunia secara bersamaan, sedangkan salah satunya adalah yang paling banyak hafalannya, maka yang paling banyak hafalannya-lah yang didahulukan untuk ditempatkan di liang lahad.
  • Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi bahwa barangsiapa yang menyakiti kekasih Allah (Waliyullah) sungguh ia telah menabuh genderang perang terhadap Allah Ta’ala.
  • Orang yang mengerjakan sholat shubuh maka berada dalam jaminan Allah Ta’ala.
  • Jika seorang Ulama’ bukanlah Waliyullah, maka Allah tak mempunyai seorang wali (kekasih). Ulama’ adalah orang yang sangat qosyyah kepada Allah.
  • Daging ulama itu beracun. Bagi orang yang berani memfitnah Ulama’ maka Allah Ta’ala akan jadikan orang tersebut mati hatinya sebelum mati jasadnya.

 

والله اعلم بالصواب

Sumber rujukan: Kitab Tibyan Fii Adabi Hamalatil Qur’an

Pemateri: Ust. Dr. Ahmad Muzakki, MA

Dirangkum oleh: Ermalia Dwi Nuryanti/18620045/Biologi

 

Kajian Tibyan : Keutamaan Membaca (Qiro’ah) dan Pembaca (Qori’)

  • Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah orang yang bagus bacaan/ahli membaca kitabullah (Al-Qur’an). Selain ahli membaca kitabullah, juga harus lebih mengerti/paham dalam hal fiqih.
  • Orang-orang yang berada di Majlis Umar radhiyallahu ‘anhu dan merupakan dewan syuranya baik dari kalangan tua maupun muda adalah para Ahlul Quro’.
  • Dalam pendapat shahih yang dipilih dan dipegang/diyakini oleh sebagian Ulama’ adalah sesungguhnya membaca Al-Qur’an itu lebih utama daripada membaca tasbih, tahlil, dan lafadz dzikir lainnya. Banyak penjelasan/dalil mengenai hal tersebut.

 

 

والله اعلم بالصواب

Sumber rujukan: Kitab Tibyan Fii Adabi Hamalatil Qur’an

Pemateri: Ust. Dr. Ahmad Muzakki, MA

Dirangkum oleh: Ermalia Dwi Nuryanti/18620045/Biologi

 

Kajian Tibyan : Fadhilah Membaca dan Menghafal Qur’an

a

 

  • Sebaik-baik orang adalah yang belajar Qur’an dan mengajarkannya Hadist ini tidak ada Qoshr(pembatasan)nya, dengan begitu, siapa saja yang berperan dalam pembalajaran atau pengajaran Al-Qur’an maka termasuk sebagai sebaik-baik orang.
  • Orang yang membaca Qur’an dan mahir, dia akan bersama malaikat Baroroh, sedangkan orang yang yang membaca Qur’an dengan terbata-bata dia akan mendapat 2 pahala kebaikan
  • Orang mu’min yang membaca Qur’an laksana buah Utrujah (Buah yang wangi dan manis), sedangkan Orang mu’min yang tidak membaca Qur’an laksana buah Kurma (Buahnya tidak berbau tapi manis), sedangkan Orang munafik yang membaca Qur’an laksana buah Royhanah (Buah yang wangi tapi pahit) dan sedangkan Orang munafik yang tidak membaca Qur’an laksana buah Hanzholah (buah yang bau dan pahit).
  • Sesungguhnya Alloh mengangkat suatu kaum dan merendahkannya (kaum itu) adalah dengan Qur’an
  • Bacalah Qur’an, sesungguhnya Qur’an akan menjadi penolong di hari akhir nanti
  • Tidak ada hasad yang diizinkan, kecuali 2