MIU Login

SEMINAR QUR’ANY XXV: Rawat Hati, Pulihkan Diri, dengan Cahaya Ilahi

ANNABA – Sabtu (29/11 2025) Hai’ah Tahfizh Al-Qur’an UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menggelar acara Seminar Qur’any. Pada seminar kali ini mengusung tema yang  berkorelasi dengan kondisi saat ini maraknya era digital yang mempengaruhi mental yaitu Mental Health ala Qur’an: Menemukan Ketenangan di Tengah Bisingnya Zaman. Acara ini dilaksanakan di Aula Gedung C Lantai 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Acara berjalan dengan khidmat, dimulai pembukaan rangkaian acara, dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang menambah suasana semakin khidmat. Acara berlanjut pada rangkaian sambutan-sambutan, sambutan yang pertama  disampaikan oleh ketua pelaksana yaitu Gus Muhammad Ikhyau ‘Ulumuddin, sambutan tersebut disampaikan dengan penuh harapan dan apresiasi, beliau menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kerja keras seluruh panitia, sehingga berkat kerja kerasnya, Seminar Qur’any dapat berjalan dengan baik.

Dilanjutkan sambutan kedua oleh  Ketua Musa’id/ah yaitu Gus Moh Alvian Sufiandi. Beliau mengatakan bahwa para peserta hadir pasti dengan berbagai niat, ada yang ingin memperbaiki diri, menambah wawasan, atau sekadar muwajahah (bertemu langsung) dengan para pemateri yang luar biasa. Namun, harapannya beliau jauh lebih besar, yaitu agar setiap peserta tidak hanya sekadar mengikuti, tetapi juga dapat membawa harapan baru dan ilmu baru yang bermanfaat untuk diri sendiri.

Sambutan terakhir yang disampaikan oleh Ketua HTQ UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yaitu Ustadz Drs. H. Abdullah Zainur Ro’uf, M.HI. Beliau berharap agar seminar ini membawa keberkahan dan semoga kehadiran kita di sini menjadi manfaat dan menambah wawasan yang mendalam bagi kita semua, khususnya tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Rangkaian acara ditutup dengan pembacaan Doa, yang dibacakan dengan penuh khidmat, lalu dilanjutkan dengan sesi dokumentasi. Sebelum memasuki Acara inti, para peserta diperkenalkan dengan jargon Seminar Qur’any, yaitu ” Rawat Hati, Pulihkan Diri, dengan Cahaya Ilahi.” Sesi seminar dibagi menjadi dua bagian yang diisi oleh narasumber yang luar biasa.

Materi pertama dipandu oleh Gus Mahfud Saiful Huda. Dengan pemaparan materi  yang disampaikan oleh Gus Maulana Miftakhur Ridlo Al-Arief. Beliau adalah Pengasuh Pesantren Mahasiswa Anta Ya Maulana, sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tanah Jawi. Beliau membawakan materi “Ketika Semua Terlihat Benar, Tapi Aku Masih Bingung: Mencari Jati Diri di Tengah Dunia yang Simpang Siur.”

 Pada materi kali ini beliau mengatakan “Mental health di dalam Al-Qur’an itu husnudzon  kepada Allah seperti kisah Sayyidina  Umar Bin Khattab, yaitu sebelum bertaubat beliau ingin membunuh Rasulullah SAW. Tetapi, setelah bertaubat beliau tidak pernah mengingat hal itu bahkan beliau hanya fokus berjihad di jalan Allah”.

Dalam penyampaian materi tersebut, poin yang dapat diambil sebagai pelajaran adalah di masa muda ini kita harus penuhi masa-masa tersebut dengan menuntut ilmu. Maka, selain kita memenuhi masa ini dengan belajar kita juga perlu membentuk jati diri dan seseorang yang ingin membentuk jati diri itu tidak bisa jauh dari Al-Qur’an.

Materi kedua dipandu oleh Gus Muhammad Fithrah Fanani. Dengan pemaparan materi disampaikan oleh Dr. KH. Halimi Zuhdy, M.Pd. Beliau merupakan Pengasuh PP. Darun Nun Malang, sekaligus Ketua PC RMI NU Kota Malang tahun 2024–2028. Beliau membawakan materi yang tak kalah menariknya yaitu  “Ketika Hidup Tak Sesuai Rencana: Bagaimana Al-Qur’an Mengajarkan Kita Tentang Qadha’ dan Qadar.”

Pada materi kali ini beliau mengatakan bahwa “Hidup itu tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana kita tapi sudah ada skenario yang disusun oleh Allah secara rapi”. Dalam penyampaian materi tersebut, poin yang dapat diambil sebagai pelajaran bahwa sesuatu yang ditunda oleh Allah itu bukan berarti tidak menjadi yang terbaik, namun Allah telah menyiapkan kebaikan-kebaikan yang lebih baik pada waktu yang tepat.

Beliau juga mengatakan bahwa bukan tekanan yang membuat kita stres tetapi kita yang tidak kuat melawan tekanan tersebut. Pada materi kali ini beliau berpesan bahwa Al-Qur’an itu tidak hanya dibaca dan dihafalkan melainkan difahami dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan berakhirnya rangkaian acara seminar kali ini, harapannya setiap materi dan pesan yang disampaikan dapat memberikan manfaat serta menjadi pembelajaran positif bagi kita semua. Dan semoga kegiatan seminar ini bisa membawa manfaat pada kehidupan kita sehari-hari. Sampai jumpa pada seminar Qur’any selanjutnya.(RFA/Red)

اترك تعليقاً

لن يتم نشر عنوان بريدك الإلكتروني. الحقول الإلزامية مشار إليها بـ *

Berita Terkait