Kajian Tafsir Al-Qur’an 1 (Surat Al Ma’un)

tafsir 1

Surah Al-Ma’un (Barang-barang yang berguna) I

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)

(1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, (2) Itulah orang yang menghardik anak yatim, (3) dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin, (4) Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (5) (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (6) orang-orang yang berbuat riya, 7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Surah Al-Ma’un termasuk dari surah-surah pendek yang ada di juz 30. Surah yang terdiri dari tujuh ayat tersebut termasuk Makkiyah (diturunkan di Mekkah). Adapun mengenai surah tersebut, salah satu ulama tafsir, seperti Syeikh Jamaluddin Abdur Rahman bin Ali bin Muhammad Al-Jauzi (W.597) dalam kitabnya “Zaadal Masiir fi Ilmi Tafsir”; ayat tersebut turun berkenaan dengan :
1. Orang-orang munafiq (Pendapat Ibnu Abbas)
2. Umar bin A’idz (Pendapat Ad-Dzihak)
3. Walid bin Al-Mughirah (Pendapat As-Sidi)
4. Ash bin Wa’il (Pendapat Ibnu Sa’ib)
5. Abi Sufyan bin Harb (Pendapat Ibnu Jarij)
6. Abi Jahal (Pendapat Al-Mawardi)

Pemateri (Ustadz Muhammad Yahya) mengawali pembahasan surat tersebut dengan menganalisis kata-kata yang dipakai oleh Al-Quran. Dalam hal ini, setiap kata dalam Al-Quran memilliki fungsi tersendiri, dalam konteks dan tujuan apa kata tersebut dipakai. Tentu saja ini sangat menarik untuk dikaji. Karena dalam memahami kandungan dalam Al-Quran, kita tidak boleh serta merta melihat dari sisi tekstual saja. Lebih dari itu, kita harus melihat historis mengapa ayat tersebut diturunkan.

Pada kata pertama, kita ketahui Al-Quran memakai kata (أَرَأَيْتَ), dan di surah lain (Contoh: Al-Fil ) memakai kata (أَلَمْ تَرَ). Jika kita lihat, kedua kata tersebut sama saja dalam sisi makna, yang artiya “Tidakkah kamu melihat “. Tapi bagi Allah, kedua kata yang berbeda tersebut memiliki maksud yang berbeda.

Sebelum kita melihat lebih jauh kata (أَرَأَيْتَ), alangkah lebih baiknya kita melihat dulu kata (أَلَمْ تَرَ). Pada (أَلَمْ تَرَ) kondisi kejiwaan Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam saat itu digambarkan dalam keadaan susah sekali. Karena masyarakat Mekkah masih menolak dakwah Rosulullah. Ayat Al-Fil diturunkan sebagai penghibur untuk Rosulullah. Kata (أَلَمْ تَرَ) ; Apakah kamu tidak melihat jika kita ilustrasikan, maka hal ini sama dengan “ Nak, jangan khawatir. Kan ada bapak yang mau menolong kamu”. Model ungkapan seperti ini digunakan untuk menghilangkan keadaan susah Rosulullah waktu itu. Allah menggambarkan kejadian-kejadian terdahulu untuk Rosulullah agar beliau tahu betapa Allah Maha Penolong, salah satunya dengan menggambarkan peristiwa saat Raja Abrahah akan menghancurkan Ka’bah, namun Allah menggagalkannya. Jadi, kata (أَلَمْ تَرَ) digunakan ketika Rosulullah dalam keadaan susah.

Sementara kata (أَرَأَيْتَ) biasanya digunakan untuk penguatan. Allah menguatkan Rosulullh bahwa beliau tidak seperti mereka (Orang-orang yang mendustakan agama).

Kalimat selanjutnya adalah يُكَذِّبُ (mendustakan). Al-quran tidak memakai kata يَكْفُرُ(mengkufuri). Jika seseorang mengkufuri, dia tidak pernah menganggap sesuatu dalam hatinya itu benar. Sedangkan orang-orang pagan terdahulu, mereka mendustakan kebenaran (يُكَذِّبُ). Mereka bukannya tidak tahu akan kebenaran (islam). Hati mereka berkata benar tapi mereka menutupi hal yang demikian.

Yang mereka dustakakan adalah الدِّيْنُ(Agama). Kata الدِّيْنُ memiliki dua makna, yaitu makna literal dan teknikal. Seperti kata Islam. Makna literalnya adalah agama. Sedangkan makna teknikalnya adalah bentuk kepasrahan seorang hamba. Sama halnya dengan makna “shalat”. Kata shalat makna literalnya adalah doa. Sedangkan makna teknikalnya adalah ibadah yang diawali oleh takbir dan diakhiri dengan salam.

Orang arab menyebutkan kata الدِّيْنُ (agama) juga seakar dengan kata الدَّيْنٌ (hutang). Allah sebagai Maha Pemberi (الوَهَّابُ). Dalam konteks ini, Allah memberikan nikmat kepada hambanya, namun tidak menuntut kembali kepada hambanya untuk mengembalikan apa yang Dia beri. Sedangkan kata الدِّيْنُ yang seakar dengan kata الدَّيْنٌ (hutang) itu berarti pemberian yang dituntut untuk mengembalikannya suatu hari nanti. Dan orang arab terdahulu mendustakan terhadap hari akhir. Karena itu يَوْمُ الدِّيْنِ diartikan sebagai Hari Pembalasan. Mereka mengira nikmat yang Allah berikan kepada mereka tidak dituntut suatu hari kelak.

Kata فَذَلِكَ adalah isim isyarah yang berarti “itulah”. Kata tersebut biasa digunakan untuk menunjuk suatu yang jauh. Beda dengan فَهَذَا (Inilah). Ini berarti Allah tidak senang terhadap orang kafir atau jarak antara Allah dengan orang kafir itu jauh.

Ada dua Qiroah (cara baca) yang terdapat pada kalimat يدع. Adakalanya dibaca يَدْعُ dan يَدُعُّ . يَدْعُ bermakna “memanggil”. Berarti jika diartikan demikian, maka “ dialah orang yang memanggil anak yatim”. Sering kita jumpai daam kehidupan sehari-hari, apabila ada orang kaya (kedudukannya tinggi) yang tidak mempunyai belas kasih kepada anak yatim, biasanya memanggil dan menyuruh mereka untuk mengerjakan pekerjaan ini dan itu. Sedangkan anak-anak yatim hanya bisa menuruti kemauan mereka. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar peluang mereka untuk mendzolimi orang-orang yang rendah.

Kata yang kedua adalah يَدُعُّ yang berarti menghardik. Kata menghardik yang dipakai seakan-akan orang yang semena-mena tersebut sama sekali tidak ingin mengasihi anak-anak yatim.

Lafadz yatim dahulu sebenarnya tidak sealu diartikan anak-anak yang kehilangan orang tua. Tetapi siapapun yang tidak punya bekal untuk hidup, mereka juga disebut yatim. Namun kata itu selanjutnya dipakai untuk anak yang kehilangan orang tua, karena mereka seperti orang yang tidak mempunya tulang punggung (penopang hidup). Jika ada anak yatim, orang yang mempunyai hati yang baik tentulah dia akan mengasihani. Tetapi orang-orang yang mendustakan agama justru menghardik mereka. Mereka hanya memanfaatkan kelemahan anak-anak yatim untuk keegoisan mereka.

Bersambung…
7 Maret 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.